STRATEGI PEMBELAJARAN
LAPORAN BACAAN 9
NAMA : IKA FITRIANI
NIM : 11901240
KELAS : 4/F Pendidikan Agama Islam
Identitas Jurnal
Judul : Strategi Pembelajaran
Penulis : Prof. Dr. Sri Anitah W
"STRATEGI PEMBELAJARAN"
Assalamualaikum teman-teman onlineku, sudah lama ni gak buat blog.
Alhamdulillah hari ini saya diberi kesempatan untuk menulis diblog ini lagi.
Kali ini saya akan melaporkan hasil bacaan saya pada salah satu jurnal yang saya telusuri yaitu tentang Strategi Pembelajaran.
Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan perlu diatur sedemikian rupa sehingga timbul reaksi siswa ke arah perubahan perilaku yang diinginkan. Pengaturan lingkungan tersebut, meliputi analisis kebutuhan siswa, karakteristik siswa, perumusan tujuan, penentuan materi pelajaran, pemilihan strategi yang sesuai, serta media pembelajaran yang diperlukan. Jadi, strategi pembelajaran merupakan salah satu unsur yang penting dipahami oleh guru. Strategi pembelajaran disusun berdasarkan suatu pendekatan tertentu. Oleh karena itu, sebelum diuraikan tentang strategi pembelajaran, terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian pendekatan. Secara berturut-turut berikut ini akan dikemukakan pengertian-pengertian tentang pendekatan, strategi, metode, dan teknik dalam pembelajaran.
1. Pendekatan
Pendekatan merupakan seperangkat wawasan yang secara sistemati digunakan sebagai landasan berpikir dalam menentukan strategi, metode, dan teknik (prosedur) dalam mencapai target atau hasil tertentu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pendekatan juga dapat diartikan sebagai suatu perspektif atau cara pandang seseorang dalam menyikapi sesuatu.
2. Strategi
Kata strategi berasal dari bahasa Latin strategia, yang diartikan sebagai seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Strategi pembelajaran menurut Frelberg & Driscoll (1992) dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemberian materi pelajaran pada berbagai tingkatan, untuk siswa yang berbeda, dalam konteks yang berbeda pula. Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilihuntuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Dick & Carey (1996) berpendapat bahwa strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pembelajaran. Strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pelajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik siswa, kondisi sekolah, lingkungan sekitar serta tujuan khusus pembelajaran yang dirumuskan.
Ada beberapa dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasi strategi pembelajaran. Berikut ini akan dikemukakan beberapa di antaranya untuk dipahami dan pada saatnya dapat dipilih dan digunakan secara efektif. Berdasarkan bentuk pendekatannya, dibedakan:
1. Expository dan Discovery/Inquiry
Dari hasil penelitian Edwin Fenton diketahui bahwa strategi pembelajaran yang banyak digunakan oleh para guru, bergerak pada suatu garis kontinum yang digambarkan sebagai berikut.
Exposition Direct Discussion Discovery
< ------------------------------------------------------------------------------------>
(all cues) (question as cues) (no cues)
Dengan diagram tersebut dapat dilihat bahwa ujung paling kiri adalah “Expotition” (ekspositori), yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti-bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pembelajaran telah diorganisasikan oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, pembelajaran itu disebut ekspositori.
Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositori dengan metode ekspositori pula. Begitu pula dengan discovery/inquiry sehingga suatu ketika ekspositori- discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi pembelajaran, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode pembelajaran.
Strategi ekspositori, guru dapat memilih metode ceramah apabila ia hanya akan menyampaikan pesan berturut-turut sampai pada pemecahan masalah atau memilih eksperimen apabila ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut.
a. Pada Taman Kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan berdiri pada jalur penyeberangan dan menanti lampu lalu lintas sesuai dengan urutan warna. Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositori ia mengemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut.
b. Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah”, guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dari sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah. Dengan film sebagai media pembelajaran, akan merupakan ekspositori apabila direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus diperbuat, siswa diharapkan menerima dan melaksanakan informasi tersebut. Akan tetapi, strategi itu akan menjadi discovery atau inkuiri apabila guru meminta anak-anak untuk merencanakan sendiri jalan-jalan dari rumah masing-masing. Strategi ini akan menyebabkan, anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi diri masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum siswa sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin siswa perlu menguji cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik.
Dari contoh sederhana tersebut dapat dilihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositori atau discovery. Guru dapat mengombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai suatu tujuan.
2. Discovery dan Inquiry
Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan) penemuan adalah proses mental yang mengharapkan siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental, misalnya mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, dan membuat kesimpulan. Konsep, misalnya bundar, segitiga, demokrasi, dan energi. Prinsip, misalnya “setiap logam apabila dipanaskan memuai”.
Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam). Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya, merumuskan masalah, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.
Penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu baik, untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. Salah satu bentuk discovery yang disebut Guided Discovery (discovery terbimbing), guru memberi beberapa petunjuk kepada siswa untuk membantu siswa menghindari jalan buntu. Guru memberi pertanyaan atau mengungkapkan dilema yang membutuhkan pemecahan-pemecahan, menyediakan materi-materi yang sesuai dan menarik, serta meningkatkan kemampuan siswa untuk mengemukakan dan menguji hipotesis.
3. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Sejak dulu cara belajar ini telah ada, yaitu bahwa dalam kelas mesti terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa. Hanya saja kadar (tingkat) keterlibatan siswa itu yang berbeda. Jika dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa. Kegiatan pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan berpusat pada siswa (student centered).
Siswa pada hakikatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas maka kewajiban gurulah untuk memberi stimulus agar siswa mampu menampilkan potensi itu, betapa pun sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada siswa sesuai dengan taraf perkembangannya sehingga siswa memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep,serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses pembelajaran seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.
Okee teman-teman dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar kepada siswa. Strategi pembelajaran terdiri dari teknik (prosedur) dan metode yang akan membawa siswa pada pencapaian tujuan. Jadi, strategi lebih luas daripada metode dan teknik.
Ada dua kutub pendekatan yang bertolak belakang, yaitu ekspositori dan discovery. Kedua pendekatan tersebut bermuara dari teori Ausubel yang menggunakan penalaran deduktif (ekspositori) dan teori Bruner yang menggunakan penalaran induktif (discovery). Kedua pendekatan tersebut merupakan suatu kontinum. Dari titik-titik yang terdapat sepanjang garis kontinum itu, terdapat metode-metode pembelajaran dari metode yang berpusat pada guru (ekspositori), seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, sampai dengan metode yang berpusat pada siswa (discovery/inquiry), seperti eksperimen.
Sekian dulu penjelasan dari saya lebih dan kurangnya dimaafkan yaa hehe.
Tetap jaga kesehatan yaa teman-teman apalagi dimasa pandemi ini. Jangan lupa mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak :)
Sekian dari saya
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Komentar
Posting Komentar