KULTUR SEKOLAH
Laporan Bahan Bacaan 3
Nama : Ika Fitriani
NIM : 11901240
Kelas : 4/F Pendidikan Agama Islam
Judul Buku : Membangun Kultur Sekolah
Penulis : Hasan Kamarudin
Penerbit : CV.Bina Karya Utama
"KULTUR SEKOLAH"
Assalamualaikum teman-teman
onlineku, sudah lama ni gak buat blog.
Alhamdulillah hari ini saya
diberi kesempatan untuk menulis diblog ini lagi.
Kali ini saya akan melaporkan
hasil bacaan saya pada salah satu jurnal yang saya telusuri yaitu tentang Kultur
Sekolah.
1. 1. Pengertian
Kultur
Ketika mendengar kata “Kultur”
apa yang kamu ketahui…?
Jadi kultur merupakan pandangan
hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara
berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun
abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu
generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang
didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut.
Jadi dapat disimpulkan,
kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk
sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan
pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan
juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan
sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada
generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan
simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak
(termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia).
Dengan demikian, setiap anggota
masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang
dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan
proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi
tidak selamanya sama.
Begitu pula dengan kebudayaan
atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda
dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah.
Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika
budaya sekolah.
Kondisi ini adalah normal
sebagaimana dijelaskan oleh para ahli yang menyatakan bahwa ada beberapa
karakteristik dari pendekatan antropologi dalam memahami dalam budaya sekolah
meliputi:
“a unique mixing of ethnicity,
values, experience, skills, and asporation: special rituals and ceremonies:
unique history of achievement and tradition: unique socio-economic and
geographic location”.
Budaya sekolah menyebabkan
perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan
ada perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu
budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon 14 perubahan
tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah.
Jadi dalam hal ini budaya atau
kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan
pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas
sosial. Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon
perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah.
Sekolah merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola
relasi sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Hal itu
disebut kebudayaan sekolah. Namun, untuk mewujudkannya bukan hanya menjadi
tanggung jawab pihak sekolah. Sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak
lain, seperti keluarga dan masyarakat untuk merumuskan pola kultur sekolah yang
dapat menjembatani kepentingan transmisi nilai.
Pengertian kultur sekolah
beraneka ragam. Deal dan Kennedy (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah
Umum, 2003: 3) mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai
milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga suatu
masyarakat. Jika definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat saja memiliki
sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur lainnya sebagai
subordinasi.
Sejumlah keyakinan dan nilai
disepakati secara luas di sekolah, sejumlah kelompok memiliki kesepakatan
terbatas di kalangan mereka tentang keyakinan dan nilainilai. Keadaan ini tidak
menguntungkan, jika antara nilai-nilai dominan dan nilai-nilai subordinasi itu
tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan membangun suatu masyarakat
sekolah pro belajar atau membangun sekolah yang bermutu.
Stolp dan Smith menyatakan bahwa
kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh
suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil
baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai
cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan
masalah-masalah tersebut. Jadi, kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang
dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi
sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.
Menurut Schein (Depdiknas
Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 3-4), kultur sekolah adalah suatu
pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan atau pengembangan oleh suatu kelompok
tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang telah berhasil baik
serta dianggap valid, dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara
yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalahmasalah tersebut.
Menurut Zamroni (2005: 15),
kultur atau budaya dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah
yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai tertentu yang dianut
sekolah. 16 Misalnya, sekolah memiliki spirit dan nilai disiplin diri, tanggung
jawab, kebersamaan, keterbukaan, kejujuran, dan semangat hidup. Spirit dan
nilai tersebut mewarnai pembuatan struktur organisasi sekolah, penyusunan
deskripsi tugas, sistem dan prosedur kerja sekolah, dan tata tertib sekolah,
hubungan vertikal dan horizontal antar warga sekolah, acara-acara ritual,
seremonial sekolah, yang secara keseluruhan dan cepat atau lambat akan
membentuk realitas kehidupan psikologis sekolah, yang selanjutnya akan
membentuk perilaku perorangan maupun kelompok warga sekolah.
Jadi kultur sekolah dapat
diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan
iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur
organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih
sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan
sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan
spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan
dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya
bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi
sekolah. Budaya sekolah dipandang sebagai eksistensi suatu sekolah yang
terbentuk dari hasil mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan
kepercayaan, norma-norma, dan hubungan antara individu sekolah.
Bagi sekolah dalam membangun
disiplin di sekolah sampai saat ini masih menjadi problem utama. Kesulitan
sekolah untuk membangun budaya disiplin menjadi program pokok yang terus menerus
diupayakan oleh sekolah. Bagi sekolah, bahkan pekerjaan mendisiplinkan masih
menjadi tugas keseharian yang harus dilakukan oleh pihak sekolah. Kesulitan
menanamkan disiplin belajar, karena sekolah belum berhasil untuk menanamkan
kesadaran akan pentingnya belajar. Pihak sekolah masih terus belajar untuk
menanamkan “senang belajar”, karena sampai saat ini masih banyak siswa yang
tidak disiplin, terlambat datang ke sekolah, tidak tertib mengerjakan tugas,
tidak belajar.
Okee teman-teman setelah membahas
tentang pengertian kultur sekolah selanjutnya kita bahas tentang karakteristik kultur
sekolahh….yuk kita simak😊
2. 2. Karakteristik
Kultur Sekolah
Kultur sekolah diharapkan
memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan
memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah
perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan
dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah
berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas,
memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.
Sifat dinamika kultur sekolah
tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur
sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut.
Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan
keyakinan pelaku 18 dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini
sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika
ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif.
Sedangkan menurut Jumadi (2006: 6) Keberhasilan pengembangan kultur sekolah dapat dilihat dari tanda-tanda atau indikator sesuai fokus yang dikembangkan. Beberapa indikator yang dapat dilihat antara lain :
a. adanya rasa kebersamaan dan hubungan yang sinergis diantara
warga sekolah
b. berkurangnya pelanggaran
disiplin, adanya motivasi untuk berprestasi
c. adanya semangat dan kegairahan
dalam menjalankan tugas, dan sebagainya
Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkahlangkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah.

Komentar
Posting Komentar